BUNGA MIMPI



Kulangkahkan kakiku dengan cepat dan pasti walaupun rasa lelah dan pegal seringkali kurasakan selama perjalanan pulang. Jemariku mulai kesemutan,

tanganku pun gemetaran sehingga aku tak kuasa lagi untuk membopong sebuah karung kotor berukuran besar yang berisi barang elektronik, botol, dan plastik bekas yang kupungut dari tempat sampah. Ya, memang benar inilah profesiku. Perkenalkan namaku Rafa, bulan ini aku berumur 13 tahun dan aku terlahir dari rahim seorang ibu yang tidak pernah menginginkanku. Mengapa aku mengatakan demikian? Semuanya sudah sangat jelas. Jika ibuku menyayangiku ia pasti tidak akan membiarkanku hidup dalam kesengsaraan, jika ibuku menyayangiku ia pasti akan memberikan kasih sayang yang sangat berlimpah, dan yang terakhir jika ibuku menyayangiku ia pasti tidak akan pernah membuangku di jalanan seperti ini!!!
“Tuhan maafkan aku karena telah membenci ibuku” bisikku setelah selesai berkutat dengan pemikiran mengenai berbagai macam alasan mengapa aku ditelantarkan. Saat mataku sedang menerawang jauh sambil melamun, aku tersentak kaget karena ada yang menepuk bahuku dengan keras sambil berkata  “Rafa! Gimana hasil hari ini? Banyak barang yang bisa kamu ambil gak?” akupun langsung menoleh dan melihat siapakah orang yang membuatku begitu kaget hingga karung yang sedari tadi kubawa dengan susah payah jatuh ke atas tanah yang becek dan berlumpur. Ternyata orang itu adalah Kosam, sahabatku yang seumuran, senasib, seprofesi, dan setempat tinggal denganku. “Jangan ngagetin dong sam kalo dateng, hasil pencarianku jadi berantakan kayak gini kan” jawabku sambil memungut barang yang berserakan keluar dari karung. Kosam pun hanya menyunggingkan cengiran yang membuat gigi ompongnya menjadi terlihat. Sambil membantuku membereskan kembali barang-barang yang berserakan ia berkata “Maafin Kosam ya raf, Kosam gak tahu kalo Rafa jadi sekaget ini” dengan nada penuh penyesalan. Aku terkekeh melihat wajah melas kosam ketika sedang meminta maaf atas perbuatan konyolnya dan akupun menjawab “Iya gak apa-apa kok sam, gausah jadi jelek gitu ah mukanya” sambil mengacak rambut Kosam.
Aku dan Kosam mempunyai masa lalu yang sama-sama kelam, hanya saja dengan cerita dan versi yang berbeda. Kalau dalam kisahku aku dibuang oleh ibuku sendiri sedangkan Kosam memiliki kisah yang lebih pahit dan ironis. Dulu Kosam memiliki keluarga yang sangat bahagia, Ia memiliki ayah berhati baik dan ibu berparas cantik yang menyayanginya. Ketika Kosam berumur delapan tahun ibunya meninggal dunia karena menderita penyakit kanker payudara. Pada saat ibunya divonis menderita penyakit kanker payudara oleh dokter, kosam sama sekali tidak mengerti dan Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri “Apa itu penyakit kanker?”. Ia pun mencoba menanyakan pertanyaan yang sama kepada ayahnya, ayahnya hanya membisu dan air mata turun dengan deras dari mata sendu pria itu. Kebisuan yang diberikan oleh ayahnya semakin membuat dirinya menjadi semakin bingung. “Sebenarnya apa yang terjadi dengan ibuku?” gumam Kosam ketika sedang melamun. Akhirnya pertanyaan Kosam terjawab ketika ia melihat proses pengurusan jenazah ibunya.
 Ayah Kosam yang sebelumnya ramah serta memiliki hati dan sikap yang baik berubah menjadi seorang pria yang kasar, suka bermain judi, pemabuk dan sering membawa pulang wanita muda kerumahnya. Kosam seringkali dipukuli dan ditendangi oleh ayahnya. Karena tak sanggup lagi melihat keadaan ayahnya yang menjadi seperti itu, Kosam pun memutuskan untuk kabur dari rumah. Kosam tidak pernah menangis sedikitpun walau cobaan yang dihadapinya sangat berat. Ia berjalan dan terus berjalan melangkahkan kaki tanpa tahu arah dan tujuan. Ibu Leni, yang menemukan Kosam sedang tidur di jalanan pun langsung membawa Kosam ke tempat penampungan. Kosam datang ke tempat penampungan dengan keadaan yang sangat menyedihkan. Seluruh tubuhnya dipenuhi dengan memar berwarna biru, banyak goresan luka pecutan di betisnya, dan saat itu wajahnya terlihat sangat pucat. “Nah nak, kamu boleh tinggal di tempat ini, sekarang sebaiknya kamu membersihkan dirimu terlebih dahulu nanti akan Ibu siapkan makanan untukmu” kemudian Ibu Leni memanggilku dan berkata “Rafa, antarkan anak ini ke kamar mandi dan jangan lupa untuk memberikannya baju bersih” dengan tergagap aku hanya menjawab “Ba-baik bu”. Aku segera membantu Kosam untuk membersihkan kotaran yang menempel di badannya.
“Mengapa kamu tubuhmu bisa menjadi kotor seperti ini?” tanyaku sambil memberikan handuk untuk kosam .
“Ayahku....” jawab Kosam dengan nada suara yang parau.
“Ada apa dengan ayahmu Sam?” tanyaku penuh dengan rasa penasaran.
“Ayahku selalu menyiksaku dengan memukuliku” jawab Kosam sambil menahan rasa sakit di badan dan kakinya.
Setelah melihat raut muka kosam yang kesakitan, aku segera melihat tubuh setengah telanjang Kosam yang hanya menggunakan handuk di pinggangnya, “Ya Tuhan, Kosam, badanmu penuh dengan lebam dan sudah biru” ujarku terkejut ketika meilhat lebam di tubuh kosam. Kosam hanya menjawab, “Oh, ini tidak apa-apa kok, raf” jawab kosam. Kemudian aku pun segera berjalan keluar dari kamar dan segera melaporkan hal ini kepada bu leni.
“Bu, aku ingin cerita kepada ibu, apa ibu ada waktu luang untukku?, ujarku dengan penuh harap.
“Ya, tentu Rafa, ibu selalu ada untuk kamu, kamu ingin cerita apa? Apa ada masalah?” tanya Ibu Leni.
“Begini Bu, ini tentang kosam...” ucapku dengan nafas yang terengah-engah.
       “Kosam? Ada apa dengan Kosam? Apa yang ia butuhkan?” tanya Ibu Leni yang semakin penasaran.
       “Kosam ternyata disiksa oleh ayahnya, saya melihat luka lebam yang ada di sekujur tubuhnya. Saat ini, Kosam sedang merasa kesakitan” jelasku pada Bu Leni.
      
       Bu Leni segera menghampiri kosam yang sedang tertidur pulas dikamar. Bu Leni mengintip dari balik baju yang dikenakan Kosam, Ia pun terkejut saat melihat lebam yang berwarna kebiru-biruan di sekitar tubuh Kosam. Bu leni tak kuasa membangunkan Kosam yang terlihat sangat lelah dan tak berdaya ketika menahan rasa sakit yang dideritanya. Saat malam hari, Ibu Leni segera membangunkan Kosam untuk makam malam.
       “Sam, Sam, bangun Sam” ujar Bu Leni yang berusaha membangunkan Kosam.
       “Baik, Bu” Jawab Kosam dengan wajah yang pucat.

Ketika makan malam telah usai, Aku segera mengajak Kosam untuk mengaji dan memainkan sebuah permainan ‘teka-teki silang’. Dengan senang hati Kosam ikut serta memainkan permainan itu.
       “Kalian boleh bermain, tapi jangan lewat dari jam 9 malam, ya” ujar Bu Leni yang menasehatiku dan Kosam yang sedang asik bermain teka–teki silang di halaman koran pagi hari ini.

Dari hari ke hari, Aku dan Kosam semakin dekat dan akrab. Kami bagaikan amplop dan perangko yang saling melengkapi. Aku pintar membaca kitab suci sedangkan Kosam pintar bermain teka-teki silang. Kami sudah menganggap Ibu Leni sebagai ibu kandung kami sendiri. Hari-hariku dan kosam diisi dengan canda dan tawa. Tak luput dari itu, terkadang Aku dan Kosam berbagi cerita tentang pengalaman pahit yang kami terima ketika belum sampai di tempat penampungan anak-anak milik Bu Leni.

Setelah Kosam sudah cukup lama tinggal ditempat asuh Bu Leni. Bu Leni memberanikan diri untuk menanyakan pengalaman pahit yang dialami oleh Kosam. Seperti biasa, Ia tidak berani bertanya mengenai peristiwa buruk yang menimpa semua anak asuhnya kerna Bu Leni beranggapan kalau pertanyaan itu akan memperburuk mental anak-anak asuhnya. Oleh karena itu, Bu Leni berusaha sebisa mungkin untuk membuat anak-anak asuhnya menjadi nyaman tinggal disini sehingga mereka dapat menceritakan sendiri masa lalu kelam yang mereka alami.
       “Kosam?” Panggil Bu Leni.
       “Ya? saya, Bu,” Jawab Kosam sambil menoleh ke arah Bu Leni.
       “Sini, nak, duduk didekat Ibu,” perintah Bu Leni dan kosam segera duduk disebelahnya.
       “Kosam, maaf, bukan maksud Ibu untuk mengingatkan hal yang menurutmu pahit untuk diingat. Akan tetapi, ibu ingin tahu mengapa di sekujur tubuhmu ada luka lebam yang sudah membiru?” tanya Bu Leni dengan penuh hati-hati.
Kosam hanya tersenyum mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Bu Leni.
       “Maksud Ibu, luka yang ini?” jawab kosam dengan menunjukan luka yang ada disekujur tubuhnya.
       “Maaf, Nak, ibu sudah lancang mengintip lukamu, ketika kamu sedang tertidur pulas waktu kamu pertama kali datang kesini.” Ujar Bu Leni yang menjelaskan hal yang sangat senstif kepada kosam.
       Kosam segera menjelaskan bahwa dirinya sering disiksa oleh ayahnya, sampai pada suatu malam ia memberanikan dirinya untuk pergi meninggalkan ayahnya dirumah. Kosam berpikir kalau ayahnya menyesal telah memiliki anak seperti dirinya hingga akhirnya ayahnya terus-menerus menyiksanya. Bu Leni tak bisa menahan air matanya ketika Kosam menceritakan alasan mengapa di tubuhnya terdapat luka lebam. Bu Leni hanya menyemangati Kosam dan memberikan motivasi untuk Kosam agar Ia bisa bangkit dari masa lalunya.
       Terlepas dari masa lalunya yang kelam, Kosam merasa hari-harinya menjadi semakin menyenangkan berada di rumah asuh itu. Sampai suatu ketika, ada sesorang perempuan tua yang datang kerumah asuh tersebut untuk menjadikanku sebagai anak asuhnya.
       “Raf, apa ini tanda perpisahan kita? Apa kita tidak akan pernah bertemu lagi?” tanya kosam yang tak kuasa menahan air mata saat detik-detik Aku meninggalkan rumah asuh.
       “Sam, jangan sedih” jawabku sambil menghapus air mata Kosam.
Perpisahan itu diakhiri dengan pelukan hangat dari kuberikan untuk Kosam. Suatu hari, Kosam jatuh sakit, dan dokter menvonis Kosam terkena kanker tulang. Bu leni sempat tak percaya kosam menderita penyakit mematikan tersebut. Bu leni mencari informasi mengenai penyakit Kosam. Dokter memberitahukan Bu Leni, penyebab penyakit Kosam dikarenakan ia sering dipukuli dan tidak segera diobati. Sehingga, kosam kekurangan kalsium untuk meperbaiki tulang-tulangnya. Akhirnya, Kosam meninggal dunia.

“Kosaaaaaaaaaaam!!!!!!” teriakku saat terbangun dari mimpi yang mengingatkanku akan masa lalu bersama sahabatku, Kosam.
    



    

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dongeng Apel

Akhir Pekan bersama Depok Stars Crew