Harta Merubah Segalanya





Pada suatu hari, di rumah yang sangat besar dan mewah tinggal 'lah sebuah keluarga kecil yang hidupnya sangat harmonis. Keluarga itu diimami oleh seorang pria berparas tampan, bertubuh kekar namun pria itu memiliki sifat yang ramah dan bijaksana. Ia bernama Prabu Tapak Agung. Prabu Tapak Agung memiliki istri yang luar biasa cantik paras dan hatinya, Ia bernama Sri Ayu. Setelah 2 tahun menikah, akhirnya Prabu dan Sri dikaruniai seorang anak perempuan yang sangat cantik jelita, mereka memberinya nama Purbararang. Sewaktu Sri Ayu sedang mengandung, Prabu sangat mengharapkan bahwa anak yang berada didalam kandungan istrinya berkelamin laki-laki. Setelah mengetahui bahwa janin yang berada dalam kandungan Sri Ayu berkelamin perempuan, Prabu berusaha menyembunyikan perasaan kecewanya dengan tidak mempersoalkan masalah ini kepada istrinya dan tetap menyayangi Purbararang, putri mereka. ketika Purbararang berumur 2 tahun Sri Ayu mendapati dirinya dinyatakan hamil lagi oleh dokter. Pada awalnya Sri merasa mual dan pusing, Ia pikir dirinya hanyalah menderita sakit biasa. Akan tetapi dokter mengatakan bahwa mual dan pusing yang dirasakan Sri Ayu bukanlah penyakit melainkan sebuah amanah yang diberikan Tuhan kepadanya.
Perasaan senang dan gembira menjalari seluruh tubuh Sri Ayu dan Ia pun segera menghubungi suaminya tercinta untuk menyampaikan berita gembira ini. Ketika Prabu mendengar kabar bahwa istrinya sedang mengandung anak kedua mereka, Prabu sangat senang karena sebentar lagi rumahnya yang besar dan sepi itu akan diramaikan oleh buah cinta mereka. Selama Sri Ayu mengandung anak keduanya, kebahagiaan dan rezeki datang bertubi-tubi. Perusahaan Prabu mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Oleh karena itu, Prabu berpikir bahwa janin yang dikandung istrinya membawa keberuntungan dan berkah walaupun diprediksi berjenis kelamin perempuan. Sembilan bulan telah berlalu, akhirnya tibalah waktunya Sri Ayu melahirkan.  Prabu tetap setia menemani istrinya selama proses persalinan berlangsung. Tak henti-hentinya ia berdoa untuk keselamatan istri dan putrinya. Namun, Tuhan berkehendak lain. Sri Ayu meninggal dunia karena melahirkan putri kedua mereka. Air mata tak henti-hentinya keluar menuruni mata Prabu yang berwarna kecoklatan. Ia menangis sejadi-jadinya di rumah sakit. Akhirnya Prabu pun bisa mengendalikan dirinya lagi ketika melihat wajah polos Purbararang dan Prabu memutuskan untuk ikhlas menerima kenyataan pahit ini. Prabu melihat keadaan putri bungsunya dan ternyata putri bungsunya memiliki paras yang sangat cantik melebihi purbararang dan wajah putri bungsunya sangat mirip dengan wajah Sri Ayu. Prabu Tapak Agung memberi nama ‘Purbasari’ untuk putri bungsunya.
Enam belas tahun telah berlalu sejak kematian Sri Ayu, kini Purbararang dan Purbasari sudah tumbuh menjadi wanita yang cantik. Purbararang sudah berumur 18 tahun dan Ia sekarang sedang menempuh pendidikan S1 di Universitas Trisakti. Sedangkan Purbasari, yang masih berumur 16 tahun duduk di bangku SMA kelas XI. Walaupun sama-sama memiliki paras yang cantik, namun mereka berdua memiliki sifat yang berbeda. Purbararang memiliki sifat pembangkang, pemarah, pemalas, dan suka mengahambur-hamburkan uang pemberian ayahnya. Sedangkan Purbasari memiliki hati yang cantik secantik parasnya. Ia memiliki hati yang murni, otak yang cerdas, penurut, bijak , dan tidak pernah menghambur-hamburkan uangnya untuk hal-hal yang tidak penting. Prabu sadar bahwa usianya sudah tidak muda lagi dan ia harus segera menentukan siapa yang akan menjadi ahli waris atas semua harta benda yang dimilikinya. Berdasarkan beberapa pertimbangan yang sudah Ia pikirkan masak-masak, akhirnya Prabu mencantumkan nama Purbasari untuk menjadi ahli warisnya. Prabu menunjuk Purbasari sebagai ahli warisnya karena Prabu melihat Purbasari bisa lebih bijak mengatur perusahaannya dilihat dari kebiasaan Purbasari sehari-hari. Selain itu Purbasari juga memiliki otak yang sangat cerdas dan Prabu pun semakin yakin bahwa Purbasari bisa menjadi pemimpin yang baik dan bertanggung jawab di masa depan.
Beberapa bulan setelah itu, tiba-tiba Prabu ditemukan dalam keadaan pingsan di ruangannya. Sekertaris Prabu pun langsung menghubungi ambulans dan mengambil handphone milik Prabu untuk menghubungi putri bosnya yang bernama “Purbararang”. Setelah berhasil menemukan kontak Purbararang, sekertaris Prabu pun langsung menelpon Purbararang dan menunggu Purbararang menjawab telpon. Sudah 15 kali sekertaris Prabu menghubungi Purbararang, namun Purbararang terus mereject telponnya. Ketika sekertaris Prabu ingin mengubungi Purbararang sekali lagi, ternyata nomor Purbararang sudah tidak aktif. Wanita bertubuh langsing yang berwajah cemas itu pun kebingungan. Ia tidak tahu harus menghubungi siapa lagi agar keluarga bosnya mengetahui bahwa bosnya sedang tidak sadarkan diri dan dirawat di rumah sakit. Tiba-tiba sekertaris Prabu ingat bahwa bosnya memiliki satu orang putri lagi. Ia pun mengingat-ingat siapa nama anak itu. Akhirnya, sekertaris Prabu pun bisa mengingat putri kedua bosnya yang bernama “Purbasari” Ia pun segera menelpon Purbasari.
Setelah terdengar tiga kali nada tersambung tak lama kemudian terdengar suara seorang wanita yang mengangkat telepon. Wanita itu mengangkat telepon dengan suara yang lembut dan sopan. Sesegera mungkin sekertaris Prabu menjelaskan masalah yang menimpa ayah Purbasari.
“Halo, selamat siang” kata sekertaris Prabu.
“Selamat siang, ini siapa ya?” sahut Purbasari dengan lembut.
“Apakah benar ini Purbasari? Perkenalkan nama Saya Melissa, Saya sekertaris ayah Anda” jawabnya.
“Iya, benar ini aku, Purbasari. Oh, ada hal penting apa yang membuat ibu menghubungi Saya?” tanya Purbasari dengan sopan.
Setelah mendengar kabar buruk itu Purbasari bergegas pergi ke rumah sakit yang tadi disebutkan oleh sekertaris ayahnya. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Purbasari hanya bisa menangis dan khawatir dengan keadaan ayah yang sangat ia sayangi. Ia tidak ingin kehilangan orang yang ia sayangi lagi. Ia tidak ingin ayahnya pergi begitu saja meninggalkan dirinya. Sesampainya di rumah sakit, Purbasari langsung berlari ke ruang mawar dengan nomor kamar 64. Ia buka pintu berwarna coklat itu dan segera masuk ke dalamnya. Ketika baru masuk ke dalam kamar rawat ayahnya, ia melihat seorang pria berwajah pucat yang sedang terbaring lemah di ranjang besi berwarna putih. Ia langsung menghampiri dan menggenggam tangan ayahnya sambil menangis.
      “Jangan tinggalkan aku, Ayah. Kumohon, jangan tinggalkan aku,” ucap Purbasari pelan.
Tiba-tiba mata pria itu terbuka dan pria itu berusaha sekuat tenaga untuk membuka mulutnya kemudian berkata
“Jaga dirimu dan kakakmu baik-baik ya, Nak. Maaf, ayah tidak bisa menemanimu lebih lama lagi,” sahut pria itu dengan susah payah “Ayah ingin pergi. Ibumu sudah menunggu ayah sedari tadi,” sambung pria tampan itu.
Pria itu berusaha sekuat tenaga menggerakkan tangannya untuk mengusap kepala Purbasari sampai akhirnya Ia bisa mengusap kepala putri kesayangannya walaupun dengan susah payah. Purbasari memegang erat tangan ayahnya dan terus menggumamkan.
“Jangan pergi, Yah, bagaimana dengan nasibku dan kakak nantinya?” isak Purbasari.
Kini Prabu sudah menutup mata untuk selama-lamanya. Purbasari segera memanggil dokter dan ia hanya menangis sejadi-jadinya pada saat itu. Purbasari teringat pada sang kakak dan segera menghubungi Purbararang. Akhirnya Purbasari menghapus air matanya dan segera merogoh ponsel di dalam tasnya yang berwarna coklat itu. Kini sudah terdengar tiga kali bunyi ‘tuuutt’ di telinga Purbasari namun kakaknya belum menjawab juga.
“Kak Rara kemana sih, kok telponnya gak diangkat juga” bisik Purbasari pada diri sendiri.
“Halo, kenapa lo nelpon?” sahut seorang wanita di ponsel itu.
“Kak Rara, ayah kak, ayah...” jawab Purbasari sambil terisak.
“Ada apa lagi sih sama ayah? Emangnya ayah mati apa? Hahaha!” sahut Purbararang sinis.
“Iya kak, ayah meninggal. Sekarang Aku udah di rumah sakit fatmawati di kamar...” ujar Purbasari.
Purbararang shock mendengar berita itu dari adiknya, ia tak mendengarkan lagi di kamar nomor berapa ayahnya berada. Namun yang jelas ia hanya tahu bahwa ayahnya dirawat di rumah sakit fatmawati. Oleh karena itu, Purbararang langsung bergegas berangkat untuk menemui ayahnya. Sesampainya disana, ia hanya melihat adiknya yang sedang menangis histeris di depan seorang pria berwajah pucat yang sudah tidak bergerak lagi. Purbararang menangis melihat ayah yang selalu menyayanginya terbaring kaku di atas kasur berseprai putih itu. Pada hari itu juga jenazah Prabu disemayamkan di salah satu TPU yang terletak di daerah Jakarta Selatan.
Tiga bulan setelah kematian Prabu, tiba-tiba ada seorang pria berumur ’40-an datang ke kediaman Prabu. Purbararang pun segera menemui tamu itu dan tiba-tiba pria itu memperkenalkan dirinya sambil memberi tahu Purbararang alasan apa yang membawa pria itu datang ke rumahnya.
“Selamat siang. Nama Saya Johan. Saya datang kesini untuk memberikan penjelasan mengenai ahli waris seluruh harta Pak Prabu,” ujar pria berambut coklat itu.
“Siang, Pak. Baik, silahkan masuk, Pak. Saya juga ingin mengetahui siapa ahli waris yang ditunjuk oleh ayah untuk meneruskan kepemimpinan perusahaannya,” Jawab Purbararang.
“Begini Rara, di sini tertulis bahwa ayah Anda menunjuk adik Anda yang bernama Purbasari sebagai ahli waris yang memiliki seluruh harta kekayaan peninggalan ayah Anda dan memimpin perusahaannya,” jelas Pak Johan.
“Apa?! Ini gak mungkin! Bapak pasti salah dengar!” sahut Purbararang tak percaya.
“Memang nama Purbasari yang tertulis di sini. Kalau Anda tidak percaya, silahkan lihat surat ini,” jawab Pak Johan sambil menunjukkan surat ahli waris.
Purbararang langsung melihat surat itu dan ternyata memang benar. Nama ‘Purbasari’ sudah ditetapkan sebagai ahli waris atas seluruh harta kekayaan milik ayahnya, ditambah lagi Purbasari ditunjuk  untuk memimpin perusahaan milik ayahnya.
“Bisakah Anda memanggil adik anda untuk menandatangani surat ini?” tanya Pak Johan.
“Ba..baik, Pak. Tunggu sebentar, ya,” sahut Purbararang.
Ketika Purbararang berdiri ingin memanggil Purbasari di kamarnya, tak lama setelah itu Purbasari turun dari tangga. Purbararang pun segera memanggil Purbasari untuk menemui Pak Johan. Rasa kesal, benci, dan marah nampak di wajah Purbararang ketika ia melihat Purbasari menandatangani surat warisan itu. Niat untuk menjahati Purbasari pun terbesit dalam pikiran Purbararang. Segudang rencana busuk untuk membuat adiknya keluar dari rumah ini sudah ia buat.
Akhirnya, Pak Johan pamit pulang dan segera keluar dari rumah besar itu. Setelah Purbararang memastikan bahwa Pak Johan sudah benar-benar pergi dari rumah itu, Purbararang pun langsung melaksanakan niat jahatnya. Ia menjambak rambut Purbasari dan menyuruh Purbasari untuk keluar dari rumah, namun Purbasari tidak mau menuruti permintaan kakaknya. Setiap hari Purbasari diperlakukan layaknya seorang pembantu oleh kakak kandungnya sendiri. Sampai suatu hari Purbararang berprilaku baik sekali kepada Purbasari. Purbararang bilang ingin mengajak Purbasari jalan-jalan pergi berbelanja, Purbasari dengan perasaan senang mengiyakan ajakan kakaknya itu. Akhirnya, mereka berdua pergi ke sebuah tempat yang sangat jauh dan Purbasari tidak mengetahui daerah tempat itu. Mobil yang mereka kendarai tiba-tiba berhenti di depan pintu gerbang berwarna hitam yang sedang dijaga oleh dua orang pria bertubuh besar dan kekar.     
       Purbararang menyuruh Purbasari untuk segera turun dari mobil. Melihat kakaknya turun dari mobil, Purbasari langsung turun dari mobil dan segera mengikuti Purbararang masuk ke dalam tempat yang dijaga oleh dua pria bertubuh besar itu.
“Jack, parkirin mobil gue, ya. Nih, kuncinya,” perintah Purbararang sambil melempar kunci mobil miliknya.
“Siap deh, Non,” sahut pria itu.
“Ayo masuk, sa,” ajak Purbararang pada adiknya.
“Baik, kak. K-kita ada di mana, kak? Bukannya kita mau pergi ke mall?” tanya Purbasari
Purbararang tidak menggubris pertanyaan adiknya dan langsung masuk menemui seorang pria berumur 30‘an yang sudah duduk di depan bar. Purbasari hanya berdiri di belakang kakaknya tanpa memperhatikan apa yang sedang dibicarakan kakaknya. Suasana di tempat itu sangat ramai dan bising. Ketika Purbasari menoleh ke arah kakaknya, Purbararang sedang berjalan ke arah Purbasari dan menuntun tangan Purbasari kemudian mereka berjalan ke arah pria itu.
“Ini dia, Pak, wanita yang tadi saya ceritakan,” Ujar Purbararang kepada pria berjas itu.
“Hmm... baiklah, deal kalau begitu,” jawab pria itu, “Ini uangnya.” Sambungnya
“Oke, terimakasih banyak ya, Pak. Dia tidak akan mengecewakan bapak kok,” ucap Purbararang sambil tertawa riang menerima amplop tebal berwarna coklat itu.
Ternyata Purbararang menjual Purbasari kepada pria itu, dan Purbasari ditinggal begitu saja di tempat itu. Setelah itu, pria berjas itu langsung menarik Purbasari ke sebuah kamar yang terletak di lantai 3 tempat itu. Purbasari sangat panik dan mulai mengeluarkan air mata ketika pria itu mulai melakukan pelecehan kepada dirinya. Sebelum pria itu sempat melepas pakaian Purbasari, ada seseorang yang mendobrak paksa pintu kamar. Pria yang tadi hampir ingin membuka pakaian Purbasari pun langsung keluar dan melihat siapa yang mendobrak pintu kamar miliknya. Di sana berdiri seorang pria muda yang tampan menggunakan kaos hitam. Pria yang berumur 30’an itu langsung menghampiri orang yang mendobrak pintu dan ia meninju pria muda itu. Purbasari bisa hanya menangis melihat kejadian itu. Akhirnya pria muda berbaju hitam yang tadi mendobrak pintu memenangkan adu tonjok dengan wajah yang babak belur. Sedangkan pria yang melakukan pelecehan sudah tersungkur di lantai.
Pria berparas tampan itu langsung menarik lengan Purbasari dan berlari keluar dari tempat yang menakutkan itu. Purbasari ikut berlari bersama pria itu sambil terus memandangi wajah pria itu.
“Siapa orang ini?,” tanya Purbasari dalam hati.
Mereka berlari dan terus berlari menjauhi tempat itu. Setelah merasa sudah aman, mereka berhenti berlari dengan napas terengah-engah.
“Kamu siapa?” tanya Purbasari.
“Aku Lukas, teman sekelasmu. Apakah kamu tidak pernah melihatku?” jawab pria tampan itu.
“Lukas? Maaf ya aku tidak akrab dengan teman-teman di kelas,” sahut Purbasari
“Aku selalu memperhatikanmu di kelas. Sudah beberapa hari ini kamu tidak pernah masuk sekolah. Hari ini, Aku ditugaskan untuk pergi ke rumahmu dan menanyakan mengapa kamu tidak masuk,” jelas lukas, “Sesampainya di sana, Aku melihatmu dan kakakmu keluar menaiki mobil 'Ford' berwarna merah. Aku pun segera mengikuti kalian ke tempat ini,” sambung Lukas.
“Oh, begitu. Terimakasih banyak Lukas karena kamu telah membantuku,” ucap Purbasari lega.
Akhirnya, Purbasari melaporkan kakaknya ke kantor polisi dibantu Lukas. Polisi langsung mengusut laporan ini dan menetapkan pasal penipuan atas kejadian ini. Lukas langsung menelpon pengacara untuk membela Purbasari di pengadilan. Lukas, Purbasari, dan polisi pun langsung bergerak menuju rumah Purbasari untuk menangkap Purbararang. Sesampainya di sana, terdengar suara musik yang sangat keras di rumah itu dan ternyata Purbararang sedang berpesta merayakan kepergian Purbasari sehingga Purbararang bisa menikmati seluruh harta kekayaan peninggalan ayahnya ditambah uang tunai hasil menjual adiknya sendiri. Polisi langsung menangkap Purbararang dan menjebloskannya ke dalam bui. Purbararang meminta maaf kepada Purbasari sambil menangis histeris dan berjanji tidak akan menjahati Purbasari lagi. Namun, Purbasari yang dulunya memiliki sifat pemaaf telah berubah. Ia akan tetap menjebloskan kakaknya ke dalam jeruji besi karena ia sudah tidak tahan lagi dengan sikap kakaknya.
Harta bisa merubah segalanya, bahkan tali persaudaraan pun bisa menjadi hancur hanya karena perebutan harta kekayaan. Jangan gelap mata karena harta, jangan menganggap bahwa harta adalah segala-galanya karena harta bisa menghancurkan semua yang kita miliki.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dongeng Apel

Akhir Pekan bersama Depok Stars Crew

BUNGA MIMPI